Friday, October 5, 2012

Kampung Halaman Kita Sebenarnya Adalah Jannah

0 comments

Coba perhatikan arti ayat ke-14 dan ke-15 dari surah An Najm (53) ini:
14. Di Sidratil Muntaha.
15. Di dekatnya ada Jannah tempat tinggal
Rasanya  cocok  sekali  jika  kita  menghubungkan  antara  Jannah  yang  termaktub  dalam  ayat  ke-15  surah  53
itu dengan Jannah di mana dulunya Adam dan Hawa pernah  tinggal sebelum "diterbangkan" ke planet bumi.
Bisa  kita  asumsikan  bahwa  Jannah  itu  letaknya  ada  di  Muntaha  dimana  Rasulullah  Muhammad  Saw
melakukan perjalanannya pada peristiwa Mi'raj.
Jadi,  Muntaha  itu  adalah  nama  sebuah  tempat  yang  bisa  juga  sebuah  planet  yang  berada  diluar  angkasa
dan  untuk  sementara  bisa  kita  katakan  kedudukannya  berada  diatas  orbit  bumi,  seperti  halnya  dengan
kedudukan planet Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto.
Para ahli ditahun 1972 memperkirakan bahwa ada planet diluar lintasan Pluto, pada jarak kurang lebih 9.660
juta-juta kilometer.
Gaya  tarik  gravitasi  planet  tersebutlah  yang  menyebabkan  perubahan  kecil  pada  lintasan  beberapa  komet.
Dengan  cara  yang  sama  pula  kehadiran  Pluto  telah  diduga  15  tahun  sebelum  penemuannya,  yaitu  setelah
penelaahan atas perubahan pada  lintasan orbit Neptunus. Nazwar Syamsu, seorang penulis buku-buku  seri
Tauhid  dan  logika  menyimpulkan,  bahwa  planet  tersebut  adalah  Muntaha  yang  dimaksudkan  oleh  Qur'an
sebagai tempat Mi'rajnya Nabi Muhammad Saw.
Dasar  alasan  Nazwar  Syamsu  berpendapat  begitu  karena  menurutnya,  planet  ke-10  tersebut  letak  orbitnya
yang  berada  diatas  orbit  planet  bumi  kemudian  juga  jaraknya  yang  jauh  dari  matahari  kita  yang
dicocokkannya  dengan  bunyi  ayat  ke-119  dari  surah  An  Najm  yang  menyatakan  bahwa  Adam  tidak  akan
kepanasan  disana  (yang  diasumsikan  sebagai  panasnya  sinar  matahari),  serta  pasnya  penomoran  Qur'an
dengan  7  lapis  langit  yang  ada  diatas  kita  (yang  diterjemahkannya  dengan  7  buah  planet  yang  mengorbit
diatas bumi).
Masing-masing planet yang ada diatas orbit bumi itu ialah :
Mars
Jupiter
Saturnus
Uranus
Neptunus
Pluto
Muntaha
Dan  dasar  dari  pemahaman  beliau  adalah  dari  ayat  Qur'an  yang  memang  banyak  sekali  mengungkapkan
tentang adanya 7 langit atau terkadang disebut dengan tujuh jalan yang diciptakan oleh Allah Swt.
Satu diantaranya adalah sbb :
"Yang  telah  menciptakan  tujuh  langit  berlapis-lapis  dan  kamu  sekali-kali  tidak  akan  melihat  pada  ciptaan
Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang  tidak seimbang. Maka  lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat
sesuatu yang tidak seimbang?"
(QS. 67:3)
Dan  yang  menjadi  alasan  kenapa  perjalanan  yang  dilakukan  oleh  Nabi  Muhammad  SAW  pada  malam  hari
adalah jika orang berangkat meninggalkan bumi pada siang hari, maka dia akan mengarah kepada matahari
yang menjadi pusat orbit planet-planet. Dan hal itu bukan berarti "Naik" tetapi "Turun", karena semakin dekat
kepada  pusat  orbit  atau  kepusat  rotasi,  maka  itu  berarti  turun,  sedangkan  Muhammad  menyatakan  beliau
telah naik waktu mengalami Asraa (perjalanan) itu.
Ayat 17/11 yang sedang kita analisis ini menyatakan bahwa Muhammad dari Masjidil Haraam dibumi naik ke
Muntaha,  yang  mana  untuk  sementara  ini  kita  simpulkan  dulu  bahwa  kedudukan  Muntaha  itu  mengorbit
diatas bumi dan bukan dibawah bumi. Kalau orang naik dari bumi menuju Muntaha hendaklah dia berangkat
waktu malam yaitu bergerak dengan menjauhi matahari selaku titik yang paling bawah dalam tata surya kita.
Orang  mengetahui  bahwa  semesta,  galaksi,  tata  surya  dan  planet,  masing-masingnya  mengalami
perputaran.
Setiap putaran tentunya memiliki pusat putaran yang langsung menjadi pusat benda angkasa itu. Semuanya
bagaikan  bola  atau  roda  yang  senantiasa  berputar.  Maka  sesuatu  yang  menjadi  pusat  putaran  dikatakan
paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat putaran dinamakan semakin atas.
Dalam hal ini keadaan dibumi dapat dijadikan contoh.
Pusat putaran bumi dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari pusat itu dikatakan semakin atas.
Akibatnya,  orang  yang  berdiri  di  Equador  Amerika  dan  orang  yang  berdiri  dipulau  Sumatera,  pada  waktu
yang  sama,  akan  menyatakan  kakinya  kebawah  dan  kepalanya  keatas,  padahal  kedua  orang  tersebut
sedang mengadu telapak kaki dari balik belahan bumi, tetapi masing-masingnya ternyata benar untuk status
bawah dan atas yang dipakai dipermukaan bumi ini.
Demikian  juga  jika  contoh  itu  dipakai  untuk  status  tata  surya  dimana  matahari  sebagai  bola  api  langsung
bertindak jadi pusat kitaran ataupun peredaran.
Karenanya matahari dikatakan paling bawah dan yang semakin jauh dari matahari dinamakan semakin atas.
Venus  dan  Mercury  berada  dibawah  orbit  bumi  karena  keduanya  mengorbit  dalam  daerah  yang  lebih  dekat
dengan  matahari,  jadi  jika  ada  penduduk  bumi  yang  pergi  ke  Venus,  Mercury  atau  Matahari,  maka  orang
tersebut  turun  bukan  naik, karena  itu Venus dan Merkurius  tidak mungkin disebut  sebagai  langit bagi planet
bumi kita, sebab yang dikatakan langit adalah sesuatu yang berada dibagian atas, tetapi benar kedua planet
itu menjadi langit bagi matahari sendiri.
Dalam hal  ini  tampaknya pendapat dari Dr. Muhammad Jamaluddin El-Fandy  lebih  tepat.  Ia adalah seorang
sarjana  Islam  kenamaan  yang  menuliskan  buku  Al-Qur'an  tentang  alam  semesta  (judul  aslinya  :  On  cosmic
verses in the Quran) bahwa yang disebut dengan langit atau dalam bahasa Qur'an adalah Sama', ialah :
Setiap  sesuatu  yang  kita  lihat  tentang  benda-benda  yang  berada  diangkasa,  seperti  matahari,  bintang  dan
planet  sampai  jauh  kedalam  ruang  alam  semesta  raya,  yang  bersama-sama  dengan  bumi membentuk  satu
kesatuan yang kokoh dan merupakan keseluruhan alam wujud, itulah langit.
Rasanya  terlalu  kaku  untuk  mengatakan  bahwa  Muntaha  itu  letaknya  berada  diluar  orbit  Pluto  dan
merupakan  planet  yang  ke-10  dalam  lingkungan  tata  surya  kita  atau  merupakan  planet  ke-7  yang  berada
diatas orbit bumi.
Hal ini akan saya uraikan lagi pada penjelasan mengenai arti "Masjidil Haraam dan Masjidil Aqsha".
Saya  lebih cenderung mengartikannya sebagai  sebuah planet yang keadaannya  tidak berbeda  jauh dengan
bumi  tempat  kita  tinggal  saat  ini,  dimana  disana  juga  ada  peredaran  benda-benda  langit  yang  mengelilingi
sebuah matahari. Dan yang jelas, planet "bumi" Muntaha ini letaknya diluar galaksi Bimasakti kita.
Dia bisa terletak digugusan bintang mana saja didaerah alam semesta yang sangat luas.
Dan  pernyataan  bahwa  Muntaha  dan  Jannah  yang  berkedudukan  diatas  bumi,  itu  memang  benar,  sesui
peryataan  Allah  pada  ayat  2:36  mengenai  kata  "Ihbithu"  seperti  yang  pernah  kita  bahas  pada  waktu
pengupasan masalah Adam pada artikel sebelumnya dan akan kita ulangi sedikit disini adalah benar.
"Pergilah  !"  itu  adalah  kalimah  perintah,  dan  dalam  bahasa  Qur'annya  adalah  "ih  bithu"  ,  dan  arti
sebenarnya  adalah  :  "Turun  dari  tempat  yang  tinggi.",  seperti  dari  gunung,  dan  karenanya  ada  juga
penafsir yang memakai kata "Turunlah" saja.
Allah menyuruh Adam dan istri untuk turun dari tempat yang tinggi, yaitu Muntaha.
Dimulainya perjalanan Nabi Muhammad Saw adalah dari Masjidil Haraam, yaitu kota Mekkah Almukarromah
menuju  ke  Masjid  Al-Aqsha.   Seperti  yang  diketahui  bersama,  Masjidil  Haraam  adalah  rumah  peribadatan
yang  pertama  kali  dibangun  untuk  manusia  oleh  Allah  Swt  yang  akhirnya  dasar-dasarnya  ditinggikan  oleh
Nabi  Ibrahim  bersama  puteranya,  Nabi  Ismail  as.,  Tempat  tersebut  juga  merupakan  awal  bertolaknya
dakwah  serta  tempat  berdomisilinya  Rasulullah  Saw.   Tetapi  benarkah  pendapat  umum  yang  menyatakan
bahwa  dari  Masjidil  Haraam,  Mekkah  AlMukarromah,  Nabi  Muhammad  Saw  pernah  melakukan  kunjungan
ke Masjidil Aqsha yang terletak di Palestina ?
Setelah  diteliti  beberapa  pakar  Islam  disimpulkan  bahwa  Masjidil  Aqsha  tempat  Nabi  Muhammad  Saw
melakukan  "kunjungan"  itu  tidak  terletak  di  bumi.  Masjid  Al-Aqsha  sendiri  waktu  itu  belumlah  ada,  yang  ada
di Bait Al-Maqdis di Palestina adalah Haikal Sulaiman.
Ada  sebuah  Hadist  yang  diriwayatkan  oleh  Bukhari  yang  menyatakan  bahwa  ketika  kaum  Quraisy  bertanya
kepada  Nabi  Saw  perihal  keadaan  Bait  Al-Maqdis,  Beliau  sempat  terdiam  dan  bahkan  bimbang,  hal  ini
membuktikan  bahwa  memang  Rasul  tidak  pernah  pergi  kesana  malam  itu,  melainkan  pergi  ke  "Masjid  Al-Aqsha" yang terletak di Muntaha.
"Kaum  Quraisy  menanyakan  kepadaku  tentang  perjalanan  Israa',  aku  ditanya  tentang  hal-hal  di  Bait  Al-Maqdis,  tidak  dapat  aku  menerangkannya  sampai-sampai  aku  bimbang.  Tatkala  kaum  Quraisy
mendustakanku, aku berdiri di Hijr  lalu Allah Swt menggambarkan dimukaku keadaan di Bait Al-Maqdis dan
tanda-tandanya hingga mampu aku menerangkannya kepada mereka seluruh keadaan.
(Diriwayatkan Bukhari)
Arti dari  "Masjid" itu sendiri adalah tempat bersujud, dan sujud  ini adalah merupakan  risalah setiap Nabi dan
Rasul Allah sebelum periode Muhammad Saw. masjid dalam pengertian nama bagi suatu bangunan  ibadah
hanya  terdapat  pada  periode  Nabi  Muhammad  Saw.  Aqsha  bukanlah  nama,  arti  Masjidil  Aqsha  adalah
Masjid yang jauh atau Tempat sujud yang terjauh.
Masjidil  Aqsha  yang  menjadi  tempat  tujuan  Rasulullah  Muhammad  Saw  adalah  Tempat  bersujudnya  para
Malaikat  terhadap  Adam  sekaligus  menjadi  tempat  bersujudnya  Nabi  Muhammad  Saw  kepada  Allah  pada
saat beliau menerima perintah shalat yang letaknya sangat jauh dari bumi dan terdapat di Muntaha.
Adam  as.,  adalah  khalifah  manusia  yang  dipilih  oleh  Allah  untuk  planet  bumi,  sekaligus  menjadi  nenek
moyang  manusia  semuanya,  dan  Muhammad  Saw  adalah  Nabi  Allah  yang  terakhir  untuk  manusia  yang
membawa rahmat bagi seluruh alam semesta.
Allah  telah  mengawali  penciptaan  Adam  selaku  khalifah  pertama  manusia  bumi  kita  ini  sekaligus  Nabi
pertama  dengan  meletakkannya  di  dalam  Jannah  yang  ada  di  Muntaha,  dan  menutupnya  dengan
pengiriman Muhammad selaku Nabi  terakhir untuk kembali melihat Kampung Halaman kita di Muntaha yang Jannah ada didekatnya.
Makanya  saya  lebih  cenderung  berpendapat  bahwa  Muntaha  itu  letaknya  diluar  galaksi  kita  sekarang  ini,
yang  jaraknya  jutaan  tahun  cahaya.  Sesungguhnya  angkasa  raya  itu  sangatlah  luas  dan  terdiri  dari  ribuan
juta galaksi.
Galaksi terdekat dengan kita adalah berjarak 170.000 tahun cahaya.
Dan  diperkirakan  bahwa  pada  setiap  galaksi  akan  terdapat  sistem  matahari  sebagaimana  yang  ada  pada
galaksi bima sakti kita ini.
Dan  jika  setiap  galaksi  memiliki  sistem  matahari  tersebut,  maka  tentunya  keadaan  dari  planet-planet  yang
mengitari  galaksi  tersebut  juga  tidak  akab  berbeda  jauh  dengan  keadaan  planet-planet  yang  ada  dalam
wilayah galaksi Bima sakti.
Maka  untuk  kesekian  kalinya,  benarlah  firman  Allah  diatas,  bahwa  Allah  telah  menjadikan  banyak  sekali
(diwakili  oleh  angka  7)  bumi-bumi  didalam  lingkungan  galaksi-galaksi  (7  langit)  yang  berada  diruang
angkasa.
Dan dibumi-bumi tersebut juga ada kehidupan layaknya kehidupan yang kita jumpai diplanet bumi kita ini.
Dan dibumi yang paling ujung atau bumi yang  terjauh  itulah ada Jannah dimana Nabi Adam dulunya  tinggal
dan kembali dikunjungi oleh Nabi Muhammad Saw pada saat Mi'rajnya ke Muntaha.
"Yang telah Kami berkahi sekelilingnya":
Dalam lafal Qur'annya adalah barokna haw lahu.
Jadi Barkah telah diadakan disekeliling Muhammad dalam peristiwa Asraa kemasjidil Aqsha di Muntaha.
Apakah Barkah atau Barokna itu? Barkah adalah penjagaan.
Penjagaan  atau  Barkah  yang  melingkupi  diri  Muhammad  Saw  dalam  Asraa  itu,  ditinjau  dari  segi  bahasa,
maka bisa kita samakan keadaannya dengan Barkah yang melingkupi bumi ini seperti tercantum pada surah
7/96.
Kita  ketahui  bersama,  disekeliling  bumi  terdapat  pembungkus  gas  yang  tipis  dan  bening  yang  kita  sebut
dengan  nama  Atmosf ir,  yang  merupakan  pelindung  guna  melindungi  kehidupan  terhadap  kehampaan
angkasa.
Tanpa  atmosfir,  sinar  matahari  yang  menghanguskan  akan  membakar  semua  kehidupan  pada  siang  hari,
dan pada malam hari suhu dapat turun jauh dibawah titik beku.
Jadi, Barkah  ini berupakan sesuatu yang melindungi diri Nabi Muhammad Saw hingga beliau tidak  terbentur
pada  meteorit  yang  melayang-layang  serta  memiliki  udara  cukup  untuk  pernafasan  selama  berada  di  luar
angkasa.  Dan  dapat  dimungkinkan  perlindungan  ini  berupa  sejenis  lapisan  atmosf ir  seperti  yang melingkupi
bumi atau juga semacam sebuah pesawat ruang angkasa.
kepada  Nabi  Muhammad  Saw  diperlihatkan  sebagian  dari  tanda-tanda  kebesaran  Allah  yang  ada  diluar
planet bumi ini dengan memperjalankan beliau dengan penjagaan penuh  (yang disebut dengan Barkah atau
lafal  Qur'annya  "Baroqna")  ke  Muntaha  yang  terletak  disalah  satu  galaksi  terjauh  dari  galaksi  bima  sakti,
tempat dimana dulunya Adam dan istrinya pernah tinggal dan menetap.
Diperlihatkan kepada Nabi betapa planet bumi yang kita tempati ini terdapat didalam sebuah tata surya yang
bagaikan  suatu  noktah  kecil  diantara  jutaan  milyar  tata  surya  lainnya  yang  juga  disebut  oleh  para  ahli
dengan nama solar system.
Begitulah peristiwa Rasulullah Saw dalam peristiwa ardliyah, yaitu peristiwa Isra' Mi'raj ini. 
Ketika  Nabi  Saw  naik  kepada  ufuk  (tempat)  yang  lebih  tinggi,  tepatnya  ketika  beliau  sudah  berada  di
Muntaha,  maka  terjadilah  perubahan  pada  dzatiyah  beliau,  seolah-olah  beliau  telah  meninggalkan
basyariahnya  bertukar  dengan  dzatiyah  malaikat  yang  bisa  melihat  segala  sesuatu  disana  dengan
sendirinya.
Keadaan  semacam  itu  juga  dulunya  yang  pernah  ada  pada  diri  Adam  dan  istrinya  ketika  masih  berada  di
Muntaha  sebagaimana  yang  kita  uraikan  pada  artikel  tersebut.  Suatu  keadaan  dimana  Adam  dapat melihat
para malaikat, para Jin dan termasuk Iblis.
Sumber :  www.didkedah.gov.my/jpskmsb/artikal/misteri.pdf

Leave a Reply